GANGGUAN BELAJAR
ANAK
![]() |
| Ujang Erianto |
Belajar merupakan proses atau usaha yang
dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik
dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif
sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah
dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di rumah,
dan di tempat lain seperti di museum, di laboratorium, di hutan dan dimana
saja. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai
tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi penentu
terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Kenyataanya belajar masih
banyak gangguan belajar yang mempengaruhi kemampuan untuk menerima, memproses,
menganalisis atau menyimpan informasi. Anak dengan Gangguan Belajar mungkin
mempunyai tingkat intelegensia yang sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan
dengan teman sebayanya, tetapi seringberjuang untuk belajar secepat orang di
sekitar mereka. Masalah yang terkait dengan kesehatan mental dan gangguan belajar
yaitu kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, mengingat, penalaran, serta
keterampilan motorik dan masalah dalam matematika.
Pengertian
gangguan belajar
gangguan belajar secara bahasa merupakan
masalah yang dapat mempengaruhi kemampuan otak dalam menerima, memproses,
menganalisis dan menyimpan informasi. Sedangkan pengertian yang diberikan oleh
National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD) mengenai gangguan
belajar adalah suatu kumpulan dengan bermacam-macam gangguan yang mengakibatkan
kesulitan dalam mendengar, berbicara, menulis, menganalisis, dan memecahkan
persoalan.
Gangguan belajar termasuk klasifikasi
beberapa gangguan fungsi di mana seseorang memiliki kesulitan belajar dengan
cara yang khas, biasanya disebabkan oleh faktor yang tidak diketahui. Istilah
Ketidakmampuan belajar dan gangguan belajar sering digunakan secara bergantian,
keduanya berbeda. Ketidakmampuan belajar adalah ketika seseorang memiliki
masalah belajar yang signifikan di bidang akademis. Masalah-masalah ini,
bagaimanapun, tidak cukup untuk menjamin diagnosis resmi. Gangguan belajar, di
sisi lain, adalah diagnosis klinis resmi, dimana individu memenuhi kriteria
tertentu, sebagaimana ditentukan oleh seorang profesional (psikolog, dokter
anak, dll) Perbedaannya adalah dalam tingkat, frekuensi, dan intensitas gejala
yang dilaporkan dan masalah, dan dengan demikian keduanya tidak boleh bingung.
Faktor yang tidak diketahui adalah
gangguan yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima dan memproses
informasi. Gangguan ini bisa membuat masalah bagi seseorang untuk belajar
dengan cepat atau dalam cara yang sama seperti seseorang yang tidak terpengaruh
oleh ketidakmampuan belajar. Orang dengan ketidakmampuan belajar mengalami
kesulitan melakukan jenis tertentu keterampilan atau menyelesaikan tugas jika
dibiarkan mencari hal-hal dengan sendirinya atau jika diajarkan dengan cara
konvensional.
Perkembangan anak sejak kecil juga bisa
merupakan pertanda kemungkinan terjadinya gangguan belajar pada usia sekolah
dasar. Anak dengan keterlambatan bicara (belum bisa mengucapkan kalimat
sederhana di usia 2 tahun), bisa merupakan faktor prediksi terjadinya gangguan
belajar. Begitupun dengan gangguan koordinasi motorik, terutama pada usia
menjelang taman kanak-kanak, seperti mencetak dan mengkopi. Lambat dalam
mempelajari nama-nama warna atau huruf, lambat dalam menyebutkan kata-kata
untuk objek yang dikenal, lambat dalam menghitung, dan lambat dalam keahlian
belajar lain. Sehingga belajar untuk membaca dan menulis kemungkinan tertunda.
Gejala-gejala lain dapat berupa perhatian dengan jangka waktu yang pendek dan
kemampuan yang kacau, berhenti bicara, dan ingatan dengan jangka waktu yang
pendek. Anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan komunikasi.
Beberapa anak mulanya menjadi frustasi dan kemudian mengalami masalah tingkah
laku, seperti menjadi mudah kacau, hiperaktif, menarik diri, malu, atau
agresif.
Faktor Penyebab
Gangguan dalam Belajar
Masalah kesulitan belajar ini, tentunya
disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk memberikan suatu bantuan kepada anak
yang mengalami kesulitan belajar, tentunya kita harus mengetahui terlebih
dahulu faktor apa yang menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar.
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua
golongan, yaitu :
1. Faktor Internal (faktor dari dalam
diri anak itu sendiri ) yang meliputi:
1) Faktor fisiologi
Faktor fisiologi adalah faktor fisik
dari anak itu sendiri. seorang anak yang sedang sakit, tentunya akan mengalami
kelemahan secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran
menjadi tidak sempurna. Selain sakit faktor fisiologis yang perlu kita
perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar
adalah cacat tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan
seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta
cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.
2) Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah berbagai hal
yang berkenaan dengan berbagai perilaku yang ada dibutuhkan dalam belajar.
Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah kesiapan,
ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga termasuk dalam faktor psikoogis ini
adalah intelligensi yang dimiliki oleh anak. Anak yang memiliki IQ cerdas (110
– 140), atu genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran
dengan cepat. Sedangkan anak-anak yang tergolong sedang (90 – 110) tentunya
tidak terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya tidak terlalu tinggi.
Sedangkan anak yang memiliki IQ dibawah 90 atau bahkan dibawah 60 tentunya
memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Untuk itu, maka
orang tua dan guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki anak atau anak
didiknya. Selain IQ faktor psikologis yang dapat menjadi penyebab munculnya
masalah kesulitan belajar adalah bakat, minat, motivasi, kondisi kesehatan
mental anak, dan juga tipe anak dalam belajar.
2. Faktor ekstern (faktor dari luar anak) meliputi:
1) Faktor sosial
Seperti cara mendidik anak oleh orang
tua mereka di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup
tentunya akan berbeda dengan anak-anak yang cukup mendapatkan perhatian, atau
anak yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu juga bagimana hubungan orang
tua dengan anak, apakah harmonis, atau jarang bertemu, atau bahkan terpisah.
Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar anak.
2) Faktor-faktor non sosial
Faktor-faktor non sosial yang dapat
menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah faktor guru di
sekolah, kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, serta
kurikulum.
Jenis Gangguan Belajar
Disleksia gangguan belajar yang mempengaruhi membaca dan /atau kemampuan
menulis. Ini adalah cacat bahasa berbasis di mana seseorang memiliki kesulitan
untuk memahami kata-kata tertulis. Diskalkulia gangguan belajar yang
mempengaruhi kemampuan matematika. Seseorang dengan diskalkulia sering
mengalami kesulitanmemecahkan masalah matematika dan menangkap konsep-konsep
dasar aritmatika.
Disgrafia ketidakmampuan dalam menulis, terlepas darikemampuan untuk
membaca. Orang dengan disgrafia sering berjuang denganmenulis bentuk surat atau
tertulis dalam ruang yang didefinisikan. Hal ini juga bisa disertai dengan
gangguan motorik halus. Gangguan pendengaran dan proses visual, gangguan
belajar yang melibatkan gangguan sensorik. Meskipun anak tersebut mungkin dapat
melihat dan / atau mendengar secara normal, gangguan ini menyulitkan mereka
dari apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka akan seringmemiliki kesulitan
dalam pemahaman bahasa, baik tertulis atau auditori (atau keduanya).
Ketidakmampuan belajar nonverbal gangguan belajar dalam masalah dengan
visual-spasial, motorik, dan keterampilan organisasi. Umumnya mereka mengalami
kesulitan dalam memahami komunikasi nonverbal dan interaksi, yang dapat
mengakibatkan masalah sosial. Gangguan bahasa spesifik, gangguan perkembangan
yang mempengaruhi penguasaan bahasa dan penggunaan.
Mengenali Gejala
Gangguan Belajar Pada Anak-anak
Gangguan ataupun kelainan belajar
meliputi masalah-masalah kronis dalam belajar. Namun tidak semua masalah
belajar adalah gejala gangguan/disabilitas. Sebagian besar siswa mengalami
masalah dalam belajar pada suatu waktu. Sesungguhnya kesulitan dalam
mempelajari materi baru adalah bagian normal dari proses belajar dan tidak
selalu merupakan gejala kelainan belajar. Sebagian kesulitan belajar justru
menguntungkan untuk siswa. Usaha tambahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
tugas-tugas yang menantang dapat memperkuat kemampuan menyelesaikan masalah,
meningkatkan pemahaman dan mempertahankan fokus lebih lama. Semua itu
diperlukan untuk meningkatkan memori jangka panjang.
Gejala awal yang muncul di masa
kanak-kanak biasanya adalah kelambatan perkembangan. Namun perlu diingat bahwa
banyak anak dengan kelambatan perkembangan dapat mengejar ketinggalannya dengan
intervensi awal pada program pendidikan khusus dan tidak mengalami gangguan
belajar kelak pada masa sekolah mereka. Pada masa Sekolah Dasar, kesulitan
dengan pekerjaan sekolah dan underachievement mungkin menunjukkan gejala yang
lebih serius dari masalah belajar. Para siswa yang memiliki gejala dan tidak
mendapatkan bantuan perbaikan dengan intervensi yang tepat setelah beberapa
lama mungkin mengalami gangguan belajar.
Perlu diingat bahwa gangguan belajar
bukan disebabkan oleh rendahnya kecerdasan ataupun rendahnya motivasi. Anak dengan
gangguan belajar bukan bodoh dan malas. Mereka sama cerdasnya dengan anak-anak
lain. Perbedaannya terletak pada cara otak mereka bekerja. Perbedaan rangkaian
otak mereka mempengaruhi cara anak-anak tersebut menerima dan memproses
informasi. Dengan kata lain, anak-anak dengan gangguan belajar melihat,
mendengar, memahami sesuatu dengan cara yang berbeda.
Jika anda mencurigai anak anda mengalami
gangguan belajar, sebaiknya hadapi masalah sedini mungkin. Mulailah dengan
mempelajari gangguan belajar dan mencari berbagai informasi. Anak dengan
gangguan belajar bisa dan mampu untuk berhasil. Sangat penting untuk diingat
bahwa anak dengan gangguan belajar tidak memiliki masalah dengan
kecerdasan. Mereka hanya perlu untuk
diajarkan dengan cara ataupun metode yang berbeda, yang sesuai dengan keunikan
masing-masing anak.
Gejala anak yang mengalami gangguan
dalam belajar dapat diamati dari perilaku mereka saat di kelas. Diantaranya
adalah:
1) tidak dapat duduk tenang di
tempatnya,
2) perhatian dengan jangka waktu yang
pendek,
3) lambat menyelesaikan tugas atau
bahkan,
4) tidak mau mengerjakan tugas yang
diberikan.
Hal-hal di atas biasanya merupakan
bentuk penghindaran dari pengerjaan tugas yang dirasa sulit oleh mereka yang
mengalami gangguan dalam belajar. Perkembangan anak sejak kecil juga bisa
merupakan pertanda kemungkinan terjadinya gangguan belajar pada usia sekolah
dasar. Anak dengan keterlambatan bicara (belum bisa mengucapkan kalimat
sederhana di usia 2 tahun), bisa merupakan faktor prediksi terjadinya gangguan
belajar. Begitupun dengan gangguan koordinasi motorik, terutama pada usia
menjelang taman kanak-kanak, seperti mencetak dan mengkopi. Lambat dalam
mempelajari nama-nama warna atau huruf, lambat dalam menyebutkan kata-kata
untuk objek yang dikenal, lambat dalam menghitung, dan lambat dalam keahlian
belajar lain. Sehingga belajar untuk membaca dan menulis kemungkinan tertunda.
Gejala-gejala lain dapat berupa perhatian dengan jangka waktu yang pendek dan
kemampuan yang kacau, berhenti bicara, dan ingatan dengan jangka waktu yang
pendek. Anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan komunikasi.
Beberapa anak mulanya menjadi frustasi dan kemudian mengalami masalah tingkah
laku, seperti menjadi mudah kacau, hiperaktif, menarik diri, malu, atau agresif.
Gejala gangguan belajar pada Anak
Pra-Sekolah:
Gangguan bicara dan bahasa, sulit
mengucapkan kata-kata dan memahami kalimat. Mengalami masalah dalam belajar
huruf, angka, warna, bentuk, hari. Kesulitan mencari ekspresi kata yang tepat.
Sulit mengikuti perintah, membedakan kanan dan kiri. Mengalami problem untuk
menulis, memegang gunting, mewarnai dalam kotak. Sulit mengikat tali sepatu,
mengancingkan kancing, ritsleting. Kesulitan mengikuti rutinitas belajar.
Cara Mengatasi
Gangguan dalam Belajar
Anak yang mengalami gangguan belajar
sering kali akan menunjukkan gangguan perilaku. Hal ini bisa berdampak pada
hubungan antara mereka dengan orang-orang di sekitarnya (keluarga, guru dan
teman-teman sebaya). Untuk itu anak perlu didampingi untuk menghadapi situasi
ini. Orang tua merupakan guru yang pertama dan terdekat dengan anak. Dengan
demikian, peran orang tua sangat penting untuk mengenali permasalahan apa yang
dialami anak. Selain itu, penting juga untuk menemukan kekuatan atau kemampuan
yang dimiliki anak. Hal ini akan membantu orang tua mendukung anak
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan
kepercayaan diri anak.
Pengobatan yang paling berguna untuk
menangani masalah gangguan dalam belajar adalah pendidikan yang secara hati-hati
disesuaikan dengan individu anak. Cara seperti membatasi makanan aditif dan
menggunakan vitamin dalam jumlah besar seringkali dicoba tetapi tidak terbukti.
Tidak ada obat-obatan yang cukup efektif pada pencapaian akademis, intelegensi,
dan kemampuan pembelajaran umum. Tugas anak adalah bermain, maka proses belajar
pun sebaiknya menjadi proses yang menyenangkan untuk anak. Apalagi pada anak
dengan gangguan belajar, penting untuk menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan dan tidak membebani anak. Kenali hal apa yang membuat anak merasa
senang. Misalnya, jika anak tersebut menyukai lagu tertentu, ajak anak itu
belajar sambil memutarkan lagu tersebut. Ijinkan anak membawa mainan
kesayangannya saat belajar. Jika anak senang dengan suatu obyek tertentu,
misalnya kereta api, sertakan bentuk kereta api dalam pelajaran. Sebagai
contoh, anak dengan gangguan berhitung, saat belajar berhitung dapat digunakan
gambar kereta api yang dia senangi. Lakukan pula proses asosiasi antara konsep
yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak mudah
memahaminya.
Anak dengan gangguan belajar juga bisa
mengalami perasaan rendah diri karena ketidakmampuannya atau karena sering
diejek oleh teman-temannya. Untuk itu, penting bagi orang tua memberikan pujian
jika ia berhasil melakukan suatu pencapaian. Misalnya, bila suatu kali anak
berhasil mendapat nilai yang cukup baik atau mengerjakan tugas dengan benar,
maka orang tua hendaknya memberi pujian pada anak. Hal ini akan memotivasi anak
untuk berbuat lebih baik, meningkatkan rasa percaya diri dan membantu anak
merasa nyaman dengan dirinya.
Keterlibatan pihak sekolah juga perlu
diperhatikan karena sebagian besar waktu belajar anak ada di sekolah. Harus ada
kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar
di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan
tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru
memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku
bacaan, serta latihan yang disarankan. Kemudian diskusikan juga dengan guru
kelas mengenai kesulitan dan kemampuan anak dalam belajar. Posisi tempat duduk
anak di kelas juga bisa membantu anak untuk lebih berkonsentrasi dalam belajar.
Akan lebih baik jika anak duduk di depan kelas sehingga perhatiannya tidak
teralih ke anak-anak lain atau ke jendela kelas.
Masalah gangguan belajar penting sekali
dipahami oleh orang tua dan guru sehingga dapat mendukung dan membantu anak
dalam belajar. Jika ditangani dengan tidak benar maka hanya akan menambah
permasalahan pada anak. Deteksi dan konsultasi dini pada anak yang diduga
mengalami gangguan belajar menjadi faktor penting sehingga anak dapat segera
ditangani dengan tepat. Kerja sama antara orang tua dan guru diperlukan untuk
membantu anak menghadapi permasalahan gangguan belajar tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar